TAP MPRS No. XXV/1966 Tak Jadi Konsideran Dalam RUU HIP, DPR RI Ahistoris

  • Whatsapp
TAP MPRS No. XXV/1966 Tak Jadi Konsideran Dalam RUU HIP, DPR RI Ahistoris

Garisatu.com – Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang merupakan usulan dari DPR menuai kritikan dari pelbagai pihak.

Kritik utama pada RUU ini adalah tidak masuknya TAP MPRS Nomor XXV/1966 sebagai bagian konsideran dalam RUU ini.

Tentu saja ketiadaan TAP MPRS yang berisi pelarangan PKI dan penyebaran ideologi Komunis dan Marxisme di Indonesia, terasa aneh.

Rancangan Undang-Undang (RUU) HIP yang bertujuan memperkuat posisi hukum Pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia, tetapi DPR enggan memasukkan TAP MPRS yang melarang ajaran komunisme dan Marxisme, karena ajaran komunisme dan Marxisme secara tegas dalam TAP MPRS ini disebut sebagai ideologi dan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila.

Sejak Pancasila di setujui dan ditulis dalam pembukaan UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945, maka Pancasila menjadi satu-satunya ideologi yang mengatur tata hubungan sosial maupun ketatanegaraan di Indonesia.

Sangat jelas, Bung Karno sebagai penggali Pancasila, berulangkali menyampaikan bahwa Ideologi Pancasila adalah antitesa dari hegemoni konsepsi yang berkembang saat itu, Komunisme dan Kapitalisme.

Lihat saja, saat berpidato di forum United Nation (PBB) pada 30 September 1960, Bung Karno menyampaikan pidato dengan judul “To Build The World A New” (Membangun Tata Dunia Baru).

Presiden Soekarno mengkritik pendapat Bertrand Arthur William Russell, filsuf Inggris yang hidup antara 1872-1970, yang dalam pandangannya hanya membagi masyarakat dunia ke dalam dua golongan saja.

Pertama, golongan pengikut ajaran Manifesto Komunis dan kedua golongan pengikut ajaran “Declaration of Independence” Thomas Jeferson yang mengajarkan Liberalisme/Kapitalisme.

Saat itu, Bung Karno secara lugas menyampaikan pada para pemimpin dunia: “Maaf Tuan Russel, meskipun kami telah mencoba menyintesiskan kedua dokumen itu tetapi kami tidak dipimpin oleh keduanya itu, kami tidak mengikuti konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis.

Apa gunanya? Dari pengalaman bangsa kami sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih sesuai dan lebih cocok dengan kepribadian bangsa kami, sesuatu itu kami beri nama Pancasila,” dengan penuh percaya diri.

Jika membaca tujuan RUU HIP salah satunya untuk melindungi Pancasila dari kepentingan banyak ideologi bangsa lain atau konsepsi-konsepsi lain yang bertentangan dengan kultur dan budaya Indonesia.

Maka sudah sewajarnya DPR RI menjadikan TAP MPRS pelarangan ideologi komunisme dan Marxisme sebagai konsideran. Demikian juga, pelarangan ideologi lain yang telah dilarang di Indonesia.

Jangan sampai RUU HIP yang diajukan oleh DPR RI menjadi ahistoris dari perumusan Pancasila dan tujuan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Pidato Bung Karno di depan forum PBB dapat disimpulkan bahwa Pancasila bukanlah ideologi yang mengikuti, apalagi dipimpin, oleh ajaran ideologi komunisme maupun liberalisme.

Pancasila menurut Bung Karno digali dari saripati nilai-nilai kebudayaan bangsa Indonesia yang telah hidup ratusan tahun lamanya di bumi nusantara.

Perlu kiranya DPR RI terutama Panitia Kerja (Panja) RUU HIP agar membuka kembali cacatan, dokumen, video, rekaman suara sejarah dan dialektika perumusan Pancasila sebagai ideologi negara/bangsa Indonesia.

Ketelitian dan lebih rajin “mengulik” proses dialektika perkembangan Pancasila sebagai “bintang penerang” perjalanan negara Indonesia merdeka. Sehingga DPR RI tidak terkesan “asal-asalan” dalam mengajukan RUU Inisiatif seperti RUU HIP ini.

Dan rasanya pemerintah sebaiknya mengembalikan RUU ini ke DPR RI agar di bahas lagi lebih “Kaffah” oleh DPR sebelum diajukan kembali ke pemerintah untuk menjadi pembahasan resmi antara DPR dan pemerintah.

Jika kerangka berpikir RUU HIP ini masih sangat absurd, sebaiknya pemerintah menolak untuk melakukan pembahasan RUU HIP ini.
Wallahu alam!!

Mahmuddin Muslim
Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *