SIKM Ditiadakan, Travel Gelap Juga Berkurang

  • Whatsapp
SIKM Ditiadakan, Travel Gelap Juga Berkurang

Garisatu.com – Dianggap kurang efektif, Pemprov DKI Jakarta resmi menghapus surat izin keluar masuk (SIKM) sebagai syarat dari dan ke wilayah Jakarta, bagi warga Jakarta dan luar Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek).

Bahkan pengguna travel gelap diprediksi bisa menurun, sebab transportasi umum seperti bus AKAP sudah kembali beroperasi. Ateng Aryono, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Angkutan Darat (Organda), mengatakan, secara umum pengguna transportasi umum mulai ada peningkatan.

SIKM Diganti dengan Corona Likelihood Metric (CLM)

SIKM Ditiadakan Travel Gelap Juga Berkurang 3 1

Khususnya pada masa adaptasi kebiasaan baru atau new normal ketimbang pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pasalnya pada penerapan PSBB transisi, sejumlah sektor perekonomian dan perkantoran mulai aktif lagi. Masyarakat pun sudah bisa beraktivitas seperti biasa, namun dengan tetap menaati protokol kesehatan.

Ateng Aryono, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Angkutan Darat (Organda), mengatakan, secara umum pengguna transportasi umum mulai ada peningkatan.

“Saat ini okupansi 20-30 persen, kalau masa PSBB itu kan benar-benar tinggal 10 persen. Untuk itu kami tidak mematok target yang spesifik setelah (SIKM) ditiadakan,” ujar Ateng.

Oleh sebab itu, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah diharapkan dapat memperluas pelayanan buy the service agar masyarakat semakin nyaman dalam menggunakan transportasi umum.

“Hal ini membuat manajemen demand sangat bagus, namun tidak menghilangkan niatan orang dan mengurangi celah angkutan pribadi yang bertindak sebagai angkutan umum yang selama ini tidak ada penindakan tegas,” katanya.

SIKM Ditiadakan, Travel Gelap Juga Berkurang

Seiring dengan Pemprov DKI Jakarta meniadakan SIKM yang telah diberlakukan seiring dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), diganti hanya dengan penilaian diri (self assessment).

Penilaian diri tersebut, dilakukan lewat pengisian data pada platform “Corona Likelihood Metric” (CLM) dalam aplikasi Jakarta Kini (Jaki) di telepon seluler.

CLM merupakan aplikasi layanan untuk penilaian mandiri yang memakai model mesin dalam mengukur kemungkinan seseorang positif COVID-19. Nantinya pemohon akan diminta untuk mengisi identitas diri dari nomor induk kependudukan (NIK), nama lengkap, alamat rumah dan nomor telepon.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *