Rupiah Melemah Ke Rp14.845 Terhadap Dolar AS Per 18 Agustus!

  • Whatsapp
Rupiah Melemah Ke Rp14.845 Terhadap Dolar AS Per 18 Agustus

Garisatu.com – Per Selasa (18/8) sore, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.845 per dolar AS pada perdagangan pasar spot.

Dibanding hari sebelumnya pada Jumat (14/8), posisi tersebut melemah 50 poin atau 0,34 persen dari Rp14.795.

Sedangkan kurs referensi Bank Indonesia (BI), per Jumat (14/8) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.907 per dolar AS atau menguat dari Rp14.917 per dolar AS.

Bacaan Lainnya

Untuk kawasan Asia, mata uang yang melemah hanya rupiah dan baht Thailand yang minus 0,02 persen. Sementara dolar Hong Kong stagnan.

Mata uang lain di Asia berhasil ke zona hijau. Won Korea Selatan 0,06 persen, yen Jepang menguat 0,4 persen, dolar Singapura 0,2 persen, ringgit Malaysia 0,18 persen, rupee India 0,17 persen, peso Filipina 0,16 persen, yuan China 0,13 persen.

Hal yang sama dengan mata uang utama negara maju, semuanya menguat bersama terhadap dolar AS. Euro Eropa 0,31 persen, rubel Rusia menguat 0,74 persen, poundsterling Inggris 0,47 persen, dolar Kanada 0,4 persen, franc Swiss 0,18 persen, dolar Australia 0,3 persen.

Menurut Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, pelemahan nilai tukar rupiah terjadi karena sentimen dari luar dan dalam negeri.

Salah satu sentimen dari luar yakni kelanjutan hubungan dagang antara China dan AS.

“Pasar merasa lega dengan penundaan peninjauan perdagangan AS-China minggu ini,” kata Ibrahim.

Lalu, ekonomi Jepang terkontraksi 7,8 persen pada kuartal II 2020.

Selanjutnya, pasar menanti pengumuman hasil rapat bulanan dari bank sentral AS, The Federal Reserve.

Dari dalam negeri, sentimen datang dari surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sebesar US$9,2 miliar pada kuartal II 2020 dan surplus neraca perdagangan US$3,26 miliar pada Juli 2020.

Lanjut dia, ada penurunan dari ekspor dan impor yang membuat pasar menangkap pemulihan ekonomi akan sedikit terhambat meskipun kedua neraca surplus.

“Sehingga harapan pasar terhindar dari resesi akan kembali sirna,” tutur dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *