Penggunaan Helikopter Firli Bahuri Merupakan Bentuk Komitmen Kerja Efisien!

  • Whatsapp
Penggunaan Helikopter Firli Bahuri Merupakan Bentuk Komitmen Kerja Efisien

Garisatu.com – Laporan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengenai langgaran kode etik Ketua KPK Firli Bahuri yang dilaporkan ke Dewan Pengawas KPK dinilai tidak tepat oleh praktisi hukum Ali Lubis.

Alasannya yakni Firli Bahuri menjelaskan  bahwa penggunaan helikopternya bukanlah sebagai gaya hidup yang hedon, melainkan bagian dari komitmen untuk dapat bekerja secara efektif dan efisien.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut mengenai laporan tersebut, dugaan pelanggaran kode etik didasarkan pada Perdewas 1/2020 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku KPK, di mana poin 1 nomor 27 tentang Integritas berbunyi “tidak menunjukkan gaya hidup hedonisme sebagai bentuk empati kepada masyarakat terutama kepada sesama insan komisi”.

Penggunaan Helikopter Firli Bahuri Merupakan Bentuk Komitmen Kerja Efisien

Ali Lubis lalu menerangkan, Wakil Ketua KPK Alex Marwata sudah menyampaikan alasan Firli Bahuri bepergian naik helikopter.

Firli Bahuri mengambil cuti 1 hari untuk keperluan pulang kampung. Maka penggunaan helikopter diperlukan agar dapat hadir kerja tepat waktu.

“Artinya tidak boleh kembali dari cuti melebihi waktu 1×24 jam. Penggunaan helikopter merupakan bagian dari komitmen ketua KPK dalam rangka menghemat waktu agar efisien di dalam perjalanan,” tegas dia kepada redaksi, Minggu (28/6).

Penggunaan Helikopter Firli Bahuri Merupakan Bentuk Komitmen Kerja Efisien

Ali Lubis menerangkan lebih lanjut, jadwal Firli Bahuri dalam satu hari itu terlampau padat. Berziarah ke makam orang tuanya merupakan salah satunya.

Maka itu ia memerlukan kendaraan udara untuk dapat hadir di seluruh agenda.

“Selain efiensi waktu perjalanan, penggunaan helikopter merupakan bentuk proteksi diri atau pengamanan. Karena sebagai ketua KPK tentunya keselamatan dan keamanan Firli Bahuri harus dijaga,” jelas Ali Lubis.

Penggunaan Helikopter Firli Bahuri Merupakan Bentuk Komitmen Kerja Efisien
Rumah Laode Syarif usai dilempar molotov

Pada tahun 2019 lalu, ia mengatakan bahwa salah satu Wakil Ketua KPK Laode Syarif sempat diteror dengan cara pelemparan bom molotov ke rumahnya.

Maka jika dibandingkan oleh peristiwa tersebut, penggunaan helikopter untuk perjalanan penting Ketua KPK tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk gaya hidup hedonisme. 

“Artinya, laporan dugaan pelanggaran kode etik melakukan gaya hidup mewah kepada Firli Bahuri kurang tepat, karena menggunakan helikopter bukan merupakan bentuk gaya hidup seperti makan di tempat mewah dan liburan ke luar negeri,” papar Ali Lubis. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *