Waspada Penderita Diabetes dan Darah Tinggi, Lebih Rentan Kena COVID-19

  • Whatsapp
Waspada Penderita Diabetes dan Darah Tinggi, Lebih Rentan Kena COVID-19

Garisatu.com – Untuk para penderita diabetes maupun tekanan darah tinggi, dianjurkan agar lebih hati-hati dengan virus corona COVID-19 yang sedang mewabah secara global ini.

Berdasarkan data yang tercatat di Korea Selatan, para pasien terinfeksi virus corona COVID-19 lebih kerap mengalami efek lanjutan jika mereka adalah penderita diabetes dan tekanan darah tinggi.

Menurut Korea Times, terdapat sebanyak 86% pasien positif yang meninggal Korea Selatan yang tercatat mengalami diabetes atau tekanan darah tinggi, atau keduanya.

Persentase ini dihitung dari data per Selasa (24/3) dengan angka kematiannya 124 korban. Data tersebut diumumkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC).

Dari semua korban yang meninggal, hanya ada 9 orang yang tidak memiliki penyakit tubuh selain virus corona COVID-19.

Terdapat 55 menderita tekanan darah tinggi kronis, 41 menderita diabetes dan 34 menderita penyakit Alzheimer, atau kombinasi dari semuanya.

Meski begitu, jenis kelamin tidak mempengaruhi persentase kematian atas virus mematikan ini, karena data kematian menunjukkan ada 61 wanita dan 63 pria.

Di sisi lain, usia mempengaruhi tingkat kematian pasien. Semakin tua pasien, semakin tinggi kemungkinan akan meninggalnya. Hal ini diduga karena tubuh yang tua cenderung lebih lemah.

Pasien meninggal yang dibawah usia 50 tahun hanya 1%, lalu yang umur sekitar 60 tahun persentase mencapai 1,75%.

Persentase kematian pasien berumur sekitar 70an tahun ada 6,25%, dan kematian pasien berumur sekitar 80an tahun mencapai 13%.

Jika dihitung secara average, waktu konfirmasi positif terinfeksi hingga hari kematiannya adalah 8 hari.

“Ada seorang pasien di China yang meninggal hanya lima hari setelah infeksi dikonfirmasikan,” ungkap Prof. Park Eun-chol, dari Fakultas Kedokteran Universitas Yonsei.

Lanjut dia, termasuk banyak pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi kritis saat tahap awal wabah COVID-19.

“Tetapi sekarang kita dapat memilah pasien pada tahap awal infeksi dan harus tahu cara mengobatinya, yang mengakibatkan penurunan tingkat kematian,” tambah dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *