Pahala N Mansury: Investasi di Sektor Perumahan Dalam Masa Pandemi COVID-19

  • Whatsapp
Pahala N Mansury: Investasi di Sektor Perumahan Dalam Masa Pandemi COVID-19

Garisatu.com – Di tengah pandemi virus corona COVID-19 ini, Pahala N Mansury, dirut Bank BTN, menjelaskan tentang dampaknya terhadap perekonomian di seluruh dunia.

Dilansir dari MediaIndonesia.com, Pak Pahala menulis bahwa wabah ini telah membuat perekonomian Indonesia dan juga seluruh dunia anjlok total.

Bacaan Lainnya

“Pertumbuhan ekonomi dunia awalnya diperkirakan akan rebound di 2020 setelah mencapai level terendah di 2019.” kata dia.

Lanjut ia menjelaskan bahwa wabah ini membuat sebagian besar pihak lockdown dan memberhentikan produksi yang menyebabkan penurunan investasi dan produksi sehingga menyebabkan peningkatan angka pengangguran, yang lalu membuat penurunan terhadap konsumsi.

“Kondisi ini berpotensi membawa perekonomian global pada jurang resesi atau pertumbuhan ekonomi yang negatif pada 2020 ini.” ujar dia.

“Untuk menangani wabah ccovid-19 dan juga untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi, berbagai negara mengeluarkan paket stimulus fiskal dan moneter. *Besar anggaran yang disiapkan dari tiap negara bervariasi dengan porsi antara 0,7% dari PDB yang dilakukan Spanyol sampai dengan 10,9% dari PDB yang dilakukan Australia. Secara garis besar, stimulus tersebut berusaha melindungi tiga hal utama, yaitu jaring pengaman sosial (social safety net), keberlangsungan dunia usaha/industri, dan yang terpenting ialah fasilitas kesehatan masyarakat.” tulis Pak Pahala.

Lalu Pak Pahala terangkan, Flattening the curve merupakan salah satu upaya mengurangi penambahan jumlah kasus baru dalam waktu tertentu. Menurut perkiraan terhitung yang dibuat ekonom dari Berkeley, Gournichas (2020), jika 50% populasi dunia terinfeksi, 1% di antaranya akan meninggal.

Perkiraan dihitung dengan tingkat kematian dan ketersediaan ruang ICU dalam rumah sakit yang dijadikan sampel.

“Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan yang tegas untuk memperlambat pertumbuhan kasus baru. Mengingat, kapasitas sistem kesehatan yang tersedia tidak akan mampu menampung seluruh pasien covid-19 yang penyebaran dan penularannya sangat cepat.” tegas dia.

Meski upaya memperlambat tidak akan mengurangi kasus positif secara menyeluruh, katanya, setidaknya yang sakit masih bisa dapat perawatan efektif sehingga tingkat kesembuhan lebih tinggi, meski bisa saja membuat wabah jadu berlangsung lama.

“Berbagai upaya untuk flattening the curve, antara lain dengan melakukan lockdown seperti yang dilakukan di Tiongkok dan Italia, melakukan isolasi mandiri di rumah, atau kebijakan lainnya yang tujuan utamanya ialah agar terjadi social distancing guna mengurangi penyebaran virus dan mencegah munculnya kasus baru. Berbagai negara menerapkannya secara bervariasi disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan karakteristik masyarakatnya.” tutur Pak Pahala.

Meski melakukan lockdown adalah suatu kebijakan yang ekstrem, penyebaran wabah lebih efektif dilokalisasi.

“Menurut Hausmann (2020), upaya flattening the curve dengan pendekatan apa pun, tetap akan mengancam ekonomi suatu negara, terlebih lagi bagi negara berkembang.” ucap dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *