MUI Bahas Fatwa Tentang Pola Ibadah di Era New Normal 2020

  • Whatsapp
MUI Bahas Fatwa Tentang Pola Ibadah di Era New Normal 2020

Garisatu.com –¬†Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat ini tengah menggodok pola penyelenggaraan ibadah maupun aktivitas keagamaan pada new normal nanti.

MUI juga akan melakukan evaluasi terhadap efektivitas aturan pemerintah di masa pandemi Covid-19 selama ini. Hasil evaluasi tersebut dipakai MUI dalam merumuskan rekomendasi yang akan disampaikan kepada pemerintah.

“Kita tidak mau terburu-buru,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang fatwa, KH Sholahuddin Al Aiyub

Bacaan Lainnya

Sholahuddin menekankan keselamatan jiwa masyarakat harus diutamakan daripada kepentingan-kepentingan yang lain, bahkan kepentingan masalah keagamaan sekalipun. Ia juga mengingatkan, dalam hal masalah keagamaan itu ada alternatif lain yaitu alternatif rukhsoh.

“Sementara kalau untuk menjaga jiwa masyarakat atau umat Islam itu tidak ada alternatif lain. Maka dalam hal ini, MUI ingin mendahulukan itu (perlindungan jiwa masyarakat). Kesimpulan seperti apa, saat ini masih digodok,” ujarnya.

KH Sholahuddin menambahkan perlu pendekatan yang lebih mikro dan bukan secara nasional untuk memastikan apakah suatu daerah bisa melaksanakan aktivitas keagamaan di rumah ibadah pada era new normal nanti.

“Kondisi daerahnya seperti apa, tingkat penyebarannya seperti apa, karena ini variabel yang penting,” imbuhnya.

Dia pun mengaku heran dengan kurva kasus Covid-19 yang masih menunjukkan tingginya penularan. Padahal menurutnya tingkat kepatuhan dan pemahaman masyarakat terhadap protokol kesehatan sudah cukup baik.

Contohnya pada saat melaksanakan sholat Idul Fitri akhir pekan lalu. “Kita mendapat laporan, aspek protokol kesehatan menjadi pertimbangan utama para jamaah untuk melakukan sholat Id,” terang Sholahudin.

Sholahuddin memaparkan, banyak kalangan Muslim saat itu yang tidak menggelar sholat Id dalam kapasitas yang besar. Mereka menggelar shalat Id di lingkup yang kecil seperti di area perumahan dengan membagi per blok atau klaster.

Dalam kondisi demikian, Sholahuddin mengakui, memang seharusnya ada dampak terhadap kurva kasus Covid-19. Namun dalam kenyataannya, masih belum berdampak pada penurunan grafik penularan Covid-19. Bahkan masih tinggi. Karena itu dia mengatakan, MUI ingin mengkajinya secara mendalam tentang hal ini.

Menurut dia, variabel kepatuhan protokol medis sudah bagus tetapi penularan masih tinggi. Informasi-informasi ini akan menjadi pertimbangan yang penting untuk merumuskan rekomendasi MUI kepada pemerintah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *