Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

  • Whatsapp
Mini Lockdown ala Jokowi
Mini Lockdown ala Jokowi

Garisatu.com – Peningkatan kasus Covid-19 memang masih terus bertambah di Indonesia. Hampir mencapai 5.000 kasus perhari membuat Presiden Joko Widodo atau Jokowi harus merombak strategi untuk menekan angka penularan corona. Sebab kasus penularan yang sangat cepat ini membuat aktifitas perekonomian mandek. 

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

Mini Lockdown

Saat memimpin rapat terbatas yang digelar secara virtual, Jokowi menyampaikan sejumlah instruksi dan langkah terbaru yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi pandemi, salah satunya melakukan mini lockdown atau pembatasan sosial berskala kecil. Ide ini diharapkan bisa menekan angka penularan Covid-19 tanpa mempengaruhi perekonomian. 

Bacaan Lainnya

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

“Artinya pembatasan berskala mikro di tingkat desa, kampung, RW, RT, atau di kantor, pondok pesantren, saya kira itu lebih efektif,” kata Jokowi.

Sementara, jika pembatasan aktivitas sosial ekonomi dilakukan di level yang lebih luas seperti kabupaten/kota atau provinsi, Jokowi khawatir akan berdampak pada ekonomi. 

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman mengatakan konsep pembatasan sosial berskala mikro berdasarkan pengalaman empiris dan pendapat ahli dipandang lebih efektif.

Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Donny Gahral Adian menjelaskan, mini lockdown yang diusulkan Jokowi ini berbasis pada data sebaran Covid-19.

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

“Jadi kalau sebuah wilayah itu, data sebarannya merah atau hitam, itu yang akan diberlakukan PSBM (Pembatasan Sosial pada Skala Mikro),” kata Donny, Selasa (29/9/2020).

Dia mencontohkan, jika di satu provinsi hanya ada 3 kabupaten, maka akan dilihat desa atau kampung mana yang berada di zona merah atau hitam. Maka hanya desa itulah yang menerapkan mini lockdown.

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

Cara ini, kata Donny akan lebih efektif karena sesuai target sasaran. “Kalau semua di lockdown tentu saja ekonomi semua terganggu, jadi yang kedepan PSBM atau mini lockdown,” ungkap Donny.

Dalam penerapannya, lanjut Donny, Pemda sebenarnya tidak terlalu kesulitan. Sebab cukup berkoodinasi dengan Satgas Covid-19. Bahkan, menurut Donny tak perlu ada regulasi tambahan untuk mengatur konsep ini karena kewenangan seutuhnya ada di pemerintah daerah.

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

“Sebenarnya izin dari Kemenkes cukup kan. PSBM itu kan modifikasi dari PSBB. Jadi kalau sudah diberikan izin PSBB, kepala daerah tinggal modifikasinya jadi PSBM. Jadi regulasinya sebenarnya sudah ada,” jelas Donny.

Konsep mini lockdown ini sebenarnya sudah diterapkan di Jawa Barat. Jokowi pun berharap sistem ini dapat diterapkan di daerah lain. 

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

“Jadi sudah dilaksanakan, presiden hanya memberikan dukungan memberikan arahan supaya ini menjadi referensi bagi daerah-daerah lain yang terdampak,” tutur Donny.

Donny juga meminta agar jangan sampai ada yang mendebatkan istilah PSBB dengan mini lockdown. Sebab sebenarnya, ini hanya bentuk modifikasi kebijakan saja.

“Jadi bukan PSBB versus PSBM. PSBM itu ya PSBB juga. Jadi ada pilihan besar, ada pilihan mikro. Tapi sekarang Presiden berbicara mikro itu lebih efektif,” kata Donny.

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono juga mengatakan, pemberlakuan pembatasan sosial berskala kecil dalam menekan laju penularan Covid-19 atau mini lockdown lebih efektif untuk dilakukan.

Menurut dia, mini lockdown langsung melibatkan masyarakat dan komunitas sehingga lebih bisa dikendalikan dengan baik.

Mini Lockdown ala Jokowi, Apa Maksudnya?

“Dari awal saya bilang, ‘the community is the frontline’ dalam mengatasi wabah. Pembatasan dalam komunitas itu bisa berbasis tempat tinggal, tempat kerja, kantor, pabrik, dan sebagainya,” ujar Pandu, Selasa (29/9/2020).

Dia pun menyebut, ada sejumlah keuntungan dari mini lockdown tersebut. Pertama, karena sifatnya melibatkan masyarakat secara langsung maka cenderung bertahan lama.

Jika demikian, hal ini menguntungkan untuk menghadapi pandemi dengan durasi panjang seperti Covid-19.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *