Mengenang Kisah Tragedi 9/11 Di Amerika Serikat

Garisatu.com – Serangan 11 September atau serangan 9/11 adalah serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. pada 11 September 2001.

Pada pagi itu, 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, membajak empat pesawat jet penumpang.

Bacaan Lainnya

Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City; kedua menara runtuh dalam kurun waktu dua jam.

Pembajak juga menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia.

Ketika penumpang berusaha mengambil alih pesawat keempat, United Airlines Penerbangan 93, pesawat ini jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania dan gagal mencapai target aslinya di Washington, D.C.

Menurut laporan tim investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam serangan ini, 400nya merupakan petugas polisi dan petugas pemadam kebakaran, dalam serangan teroris di TC di New York, di gedung Pentagon di Washington DC, dan dalam kecelakaan pesawat di dekat Shanksville, PA.

Kejadian 9/11 diakui bukanlah serangan teroris pertama di WTC.

Sebelumnya, ledakan sebuah bom pada bulan Februari 1993 telah menewaskan enam orang.

Penyelamatan dan pemulihan 1,8 juta ton puing-puing dari WTC itu memakan waktu 9 bulan.

Dampak yang disebabkan dari tragedi tersebut tidaklah sedikit. Beberapa dampaknya adalah:

  1. Kasus stres pasca-trauma yang umum di antara 9/11 korban dan petugas penyelamat. Masalah pernapasan seperti asma dan radang paru-paru juga dikembangkan pada tingkat normal bagi mereka di dalam dan sekitar World Trade Center selama dan setelah serangan
  2. Runtuhnya gedung World Trade Centre (WTC) menghasilkan lebih dari 450.000 kilogram debu yang terdiri dari gypsum, asbes, benda elektronik yang terbakar, material sintetis, rambut manusia, kertas, dan benda-benda lainnya menurut buku “Dust: The Inside Story of Its Role in the September 11th Aftermath”
  3. Menurut sebuah studi pada 2003 yang dipublikasi di jurnal JAMA mengungkap, udara beracun akibat runtuhnya WTC kemungkinan menyebabkan wanita yang saat itu sedang hamil memiliki bayi berukuran kecil.
  4. Tak hanya itu, studi pada 2005 menunjukkan bahwa 38 wanita hamil yang menderita PTSD setelah secara pribadi mengalami 9/11, memiliki bayi dengan level kortisol yang lebih rendah. Bayi-bayi tersebut diprediksi lebih tertekan terhadap rangsangan baru dan tak biasa.
  5. Penelitian lain menunjukkan, hal tersebut dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi ketika bayi-bayi itu tumbuh dewasa.
  6. Berdasarkan makalah yang dipublikasi di Harvard Review of Psychiatry pada 2004, diperkirakan lebih dari 10.000 anak kehilangan orangtua atau orang terdekat mereka akibat peristiwa 9/11.

Hari ini, 11 September 2020 adalah hari mengenang #19tahun tragedi 9/11.

Pos terkait