Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar

  • Whatsapp
Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar
Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar

Garisatu.com – Gangguan Bipolar merupakan salah satu jenis gangguan mental yang berhubungan dengan perubahan emosional atau suasana hati yang ekstrem. Melansir dari Mayo Clinic, perubahan suasana hati yang dialami oleh seorang penderita bipolar mencakup emosi tertinggi (sangat senang, yang disebut fase manik atau hipomanik untuk yang lebih ringan) dan terendah (sangat murung atau depresi).

Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar

Gejala kondisi ini bisa bertolak belakang dengan urutan manik-depresi yang diharapkan. Apalagi, kejadian manik atau hipomanik bisa hampir tidak terdeteksi.

Bacaan Lainnya

Selain itu, saat seseorang menderita bipolar dalam fase depresi, sering kali dianggap sebagai penyakit lain. Penyalahgunaan narkoba pun bisa jadi alasan sulitnya diagnosis kondisi mental ini.

Menurut WebMD, sebesar 50 persen orang dengan gangguan bipolar harus mendatangi tiga tenaga profesional hingga akhirnya bisa mendapatkan diagnosis yang tepat.

Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar

Ini berarti, perawatan gangguan bipolar bisa jadi terlambat.

Padahal, gangguan penyakit bipolar merupakan kondisi seumur hidup dan hampir tiap episodenya tidak bisa kita prediksi. Dengan kata lain, hal ini memungkinkan seseorang untuk kesulitan beraktivitas karena perubahan suasana hatinya yang drastis.

Ini menjadi sebuah keprihatinan karena keterlambatan perawatan terhadap penderita bipolar bisa berakibat buruk.Untuk itu, mengenal gejala bipolar perlu dilakukan.

Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ada dua fase yang dialami oleh seseorang dengan gangguan bipolar, yaitu manik (dan hipomanik) dan depresi.

Namun, sebagai catatan, episode manik dan hipomanik sering disebut sebagai dua periode yang berbeda. Meski begitu, keduanya memiliki gejala yang sama. Gejalanya yakni seperti berikut

            •          Detak jantung yang tidak normal, perasaan gelisah atau aneh

            •          Merasa memiliki energi berlebih sehingga memulai banyak aktivitas

            •          Memiliki percaya diri yang berlebihan dan adanya euforia

            •          Nyaris tidak membutuhkan tidur

            •          Mempunyai khayalan yang tidak biasa

            •          Mempunyai banyak pemikiran atau ide-ide

            •          Mudah teralihkan

            •          Seringnya, pada fase ini membuat banyak keputusan buruk

            •          Bicara cepat dan banyak topik

            •          Mudah tersinggung

Selain episode manik, ada pula episode depresi yang dialami oleh orang dengan gangguan bipolar. Beberapa gejalanya adalah sebagai berikut:

            •          Suasana hati yang buruk

            •          Mudah merasa tertekan, sedih, hampa, dan putus asa

            •          Kehilangan minat atau kesenangan pada sesuatu atau banyak hal

            •          Penurunan berat badan secara drastis

            •          Makan  atau tidur terlalu banyak atau juga terlalu sedikit

            •          Merasa gelisah namun tidak bisa melakukan banyak hal

            •          Mudah merasa lelah dan kehilangan energi sehingga malas beraktivitas

            •          Merasa tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan

            •          Sulit berkonsentrasi atau berpikir tenang

            •          Dalam beberapa kasus, orang merencanakan bunuh diri

            •          Sering lupa terhadap banyak hal

Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar

Meskipun kita mengetahui gejala bipolar, namun hal yang menjadi penyebab bipolar masih belum diketahui secara pasti. Para ilmuwan yang mempelajari kondisi ini juga setuju bahwa tidak ada penyebab tunggal dari gangguan bipolar.

Mengenal Gejala Dan Cara Mengatasi Gangguan Bipolar

Dengan kata lain, ada beberapa faktor yang mungkin terlibat dalam kondisi ini, seperti yang dilansir dari National Institute of Mental Health (NIMH) beberapa faktor risiko berikut merupakan penyebab gangguan bipolar.

            1.         Struktur dan fungsi otak

Beberapa penelitian menunjukkan bagaimana atruktur otak pada penderita gangguan bipolar berbeda dengan struktur otak normal atau gangguan mental lain.

Para ahli percaya bahwa gangguan bipolar disebabkan oleh gangguan pada sirkuit otak tertentu. Tidak hanya itu, fungsi zat kimia otak yang disebut neurotransmitter juga berpengaruh dalam kondisi seperti ini.

            2.         Genetik

Selain terkait pada struktur dan fungsi otak, beberapa penelitian juga menemukan bahwa gangguan bipolar ada kaitannya dengan genetik.

Para peneliti menemukan bahwa orang dengan gen tertentu lebih mungkin mengembangkan gangguan bipolar.

Meski begitu, studi tentang kembar identik dan bipolar menunjukkan hal yang berbeda.

Jika seseorang yang kembar mengalami gangguan bipolar, belum tentu saudaranya juga mengalami hal yang sama, meskipun ada peluang yang besar.

Padahal, kembar identik berbagi semua gen yang sama.

            3.         Riwayat keluarga

Penelitian tentang kaitan gen dan bipolar juga menunjukkan adanya riwayat keluarga yang bisa menjadi faktor risiko.

Penelitian yang dilakukan di Universitas John Hopkins menemukan bahwa gangguan bipolar II terjadi paling umum pada orang dengan riwayat keluarganya juga mengembangkan bipolar I dan II.

            4.         Lingkungan dan gaya hidup

Penelitian lain menunjukkan bahwa kondisi gangguan bipolar juga bisa memiliki kaitan dengan lingkungan dan juga gaya hidup.

Para peneliti menemukan anak-anak dengan orang tua yang mengalami bipolar sering dikelilingi oleh stres lingkungan yang signifikan.

Ini mungkin terkait dengan perubahan suasana hati yang terjadi pada orang tua mereka.

Meski tidak selalu mengembangkan gangguan bipolar, anak-anak tersebut bisa mengembangkan gangguan mental lain seperti, ADHD, depresi berat, skizofrenia, atau penyalahgunaan narkoba.

Untuk mengatasi dan merawat gangguan bipolar, ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan seperti perawatan obat, rawat inap, psikoterapi, terapi perilaku kognitif (CBT) terapi elektroconvulsive (ECT), obat tidur, dan perubahan gaya hidup.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *