Kemendag Batasi Impor Akibat Banjir Sepeda Dari Tiongkok 2020

  • Whatsapp
Kemendag Batasi Impor Akibat Banjir Sepeda Dari Tiongkok 2020

Garisatu.com – Sejak mulainya tren bersepeda di masa pandemi, impor sepeda melonjak tinggi hingga tiga kali lipat.

Akibat hal tersebut, Kementerian Perdagangan atau Kemendag akhirnya melakukan pembatasan dengan menerapkan suatu tata niaga.

Menteri Pedagangan, Agus Suparmanto, mengungkapkan pada rentang Mei hingga Juni 2020 terjadi kenaikan impor barang konsumsi hingga 50,64 persen. Sepeda merupakan salah satu penyumbang impor.

Bacaan Lainnya

“Kementerian Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 68 Tahun 2020 Tentang Ketentuan Impor Alas Kaki, Elektronik, dan Sepeda Roda Dua dan Roda Tiga,” jelas Mendag dalam keterangan resmi, Senin (31/8).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, per Juni 2020 nilai impor sepeda mencapai USD 10,92 juta dolar.

Dibandingkan impor sepeda Mei 2020 yang nilainya hanya USD 5,03 juta, angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat.

Sedangkan jika dibandingkan Juni 2019 (year on year) yang sebesar USD 3,68 juta, nilai impor di Juni 2020 itu meningkat hampir tiga kali lipat.

Kemudian data BPS juga menyebutkan bahwa sekitar 96,66 persen impor sepeda pada Juni 2020 itu, berasal dari China dengan nilai USD 10,56 juta.

Menurut Mendag, penerbitan aturan tersebut dimaksudkan untuk menekan impor barang konsumsi yang masuk ke Indonesia.

Khusus untuk sepeda, selama ini tidak ada pengaturan soal tata niaganya. Sepeda yang impornya dibatasi adalah kategori sepeda roda dua dan roda tiga, sepeda tak bermotor untuk mengangkut barang juga termasuk.

Berdasarrkan Permendag No. 68 Tahun 2020, kategorinya meliputi sepeda balap roda dua dengan pos tarif atau kode HS 8712.00.10, sepeda anak-anak (HS: 8712.00.20), sepeda roda dua lainnya (HS: 8712.00.30), dan jenis sepeda lainnya (8712.00.90).

“Para pelaku usaha wajib memiliki Persetujuan Impor (PI) dan Laporan Surveyor (LS) untuk pemenuhan persyaratan impor komoditas tersebut. Selain itu, mekanisme pengawasan yang dilakukan juga mengalami perubahan, yang semula dilakukan di luar kawasan pabean (post border) kini dilakukan di kawasan pabean (border),” terang Mendag.

Tidak hanya itu, Permendag Nomor 68 Tahun 2020 itu juga mengatur impor barang konsumsi lainnya seperti alas kaki dengan sol dari karet serta barang elektronik berupa mesin pengatur suhu udara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *