Jangan Stereotip! Ini Cara Mengatasinya

Jangan Stereotip! Ini Cara Mengatasinya

Garisatu.com – Pernahkah kamu mendengar kata stereotip? Atau temanmu ada yang mengatakan bahwa kamu terlalu stereotip? Lantas apa sebenarnya arti stereotip itu sendiri? Stereotip merupakan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok dimana orang tersebut dapat dikategorikan. Secara sederhananya, stereotip merupakan asumsi terhadap seseorang berdasarkan pengalaman atau keyakinan yang dimiliki sebelumnya. Jika sikap stereotip terus dibiarkan, maka bisa memunculkan sikap diskriminatif. 

Sebenarnya, memiliki sikap yang stereotip juga termasuk hal lumrah didalam pikiran manusia. Sebab inilah cara yang dilakukan untuk kita memilah milah segala informasi yang kita terima dari lingkungan sekitar.

Bacaan Lainnya

Stereotip seringkali tanpa dasar dan mengarah pada hal negative terhadap seseorang individua tau suatu kelompok tertentu. Prejudice inilah yang pada akhirnya sangat berpengaruh pada cara bagaimana seseorang berperilaku dan berinteraksi.

Bahkan bisa saja cara bertindak seseorang kepada orang lain menjadi berbeda sebab mereka tidka menyadari bahwa mereka sedang berada dibawah pikiran internalnya.

Cara pemikiran semacam ini akan membuat seseorang menganggap orang dari kelompok tertentu memiliki sifat yang sama saja. Stereotip bisa dibagikan menjadi beberapa jenis yakni:

1. Rasisme 

Rasisme merupakan jenis stereotip yang didasarkan pada rasa tau kelompok nasional seseorang. Bentuk yang paling umum dari rasisme adalah prejudice berdasarkan warna kulit seseorang.

Alasannya ialah karena warna kulit merupakan tanda paling jelas ras seseorang. Bahkan rasisme juga bisa terjadi pada orang dengan warna kulit yang sama karena ada kaitannya dengan factor latar belakang etnis. Aspek aspek yang termasuk dalam hal ini mencakup budaya, Bahasa, hingga baju tradisional. 

2. Seksisme 

Seksisme merupakan jenis stereotip berdasarkan gender atau jenis kelamin. Baik perempuan ataupun laki laki bisa menjadi korban seksisme. Namun baisanya lebih cenderung mengarah pada perempuan. 

3. Diskriminasi usia (ageism)

Istilah stereotip berdasarkan usia atau ageism pertama kali digegas oleh Robert Neil Butler pada tahun 1969 untuk menjelaskan diskriminasi terhadap orang yang berusia lanjut. Diskriminasi usia juga bisa dialami baik tua maupun muda. 

4. Prasangka terhadap orang miskin (classism)

Classism merupakan perlakuan berbeda terhadap orang lain yang didasarkan pada kelas sosial mereka. Adanya jenis stereotip ini dilakukan untuk memperkuat posisi mereka yang lebih mendominan. Akibatnya bisa menyebabkan kesenjangan sosial yang semakin besar antara kaya dan msikin. 

5. Nasionalisme 

Jenis stereotip yang satu ini, seperti judulnya, nasionalisme merupakan ide atau Gerakan yang mengampanyekan ketertarikan pada sekelompok orang. Orang yang memiliki pemikiran semacam ini akam merasa lebih hebat dibandingkan dengan individu yang berasal dari etnis, budaya, dan latar belakang agama. 

Jangan Stereotip! Ini Cara Mengatasinya

6. Homophobia 

Jenis stereotip yang satu ini merupakan perlakuan negative terhadap orang orang yang homoseksual seperti lesbian dan gay. Stereotip semacam ini bisa menimbulkan ketakutan, intoleransi, serta kebencian yang tidak rasional. 

7. Agama 

Stereotip terhadap agama dan kepercayaan tertentu. Konsekuensi dari pemikiran seperti ini ialah perlakuan terhadap seseorang atau kelompok tertentu dengan berbeda dan cenderung negative. 

8. Xenophobia 

Xenophobia merupakan rasa takut atau kebencian terhadap orang asing. Seseorang tidak akan segan untuk berlaku atau bersikap kejam pada orang yang berbeda dengan dirinya. 

Itulah 8 jenis stereotip. Lalu, bagaimana munculnya stereotip ? pemikiran stereotip atau sikap stereotip merupakan cara manusia untuk memproses informasi yang ada disekitarnya.

Ditambah juga dengan pengalaman hidup, penurturan atau kata kata dari orang lain, dan juga keyakinan yang akan memperkuat anggapan ini. semua orang akan mendapatkan label yang digeneralisasi hanya karena mereka berasal dari kelompok tertentu atau kelompok yang berbeda. 

Terlebih lagi kita sebagai manusia perlu untuk mencerna banyak informasi lewat pemikiran logis, rasional, dan berdasarkan metode tertentu. Mencerna informasi terlalu cepat merupakan hal baik namun kecenderungan untuk menimbulkan salah persepsi sangatlah tinggi. 

Untuk mengatasi sikap stereotip itu sendiri, sebaiknya kita melatih rasa empati terhadap orang lain dan menganggap bahwa perbedaan  merupakan hal biasa.

Dengan demikian maka kita tidak akan langsung menilai seseorang dari persepsi kita saja namun juga kita belajar untuk memahami posisi orang tersebut. Selain itu, sebelum menilai seseorang, kita bisa menggali atau mencari kebenaran dari informasi yang kita dapatkan terlebih dulu untuk mengurangi stereotip.

Pos terkait