Pernah Beri Potongan Hukuman Perkara Narkoba dan Koruptor, ini Profil Ketua MA Terpilih

  • Whatsapp
Pernah Beri Potongan Hukuman Perkara Narkoba dan Koruptor ini Profil Ketua MA Baru
https://www.mahkamahagung.go.id/

Garisatu.comMahkamah Agung Republik Indonesia (MA) kini telah memiliki pimpinan baru. Melalui Sidang Paripurna Khusus Pemilihan Ketua Mahkamah (MA) Agung Periode 2020 – 2025 yang digelar Senin (6/4), Hakim Agung Syarifuddin ditetapkan sebagai Ketua MA terpilih.

Pemilihan Ketua MA dilakukan sehubungan dengan Muhammad Hatta Ali, Ketua MA saat ini akan memasuki masa purna bakti (pensiun) pada 1 Mei 2020 mendatang. Karena itu untuk menghindari kekosongan pucuk pimpinan lembaga yudikatif ini, digelar pemilihan Ketua MA periode 2020-2025.

Bacaan Lainnya

Bertempat di Ruang Kusumah Atmadja, Gedung Mahkamah Agung acara yang semula dijadwalkan dimulai pukul 10.00 Wib bergeser hingga 20 menit lamanya. Berbeda dengan pemilihan pada periode sebelumnya, proses pemilihan kali ini menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

Setelah melalui pemilihan yang dilakukan dalam dua putaran, Hakim Agung Syarifuddin yang memperoleh 32 suara secara meyakinkan mengungguli pesaingnya Hakim Agung Andi Samsan Nganro yang hanya meraih dukungan 14 suara. Dalam pemilihan ini Hatta Ali memilih Abstain dengan alasan untuk menjaga obyektifitas serta dirinya yang akan purna bakti. Hasil pemilihan tersebut oleh MA akan diserahkan kepada Presiden untuk menetapkan ketua MA definitif.

Voting MA
Hasil pemilihan Ketua MA 2020-2025 (https://www.mahkamahagung.go.id/)

Profil Singkat Hakim Agung Syarifuddin

Wakil Ketua MA Bidang Yudisial ini mengawali karirnya di lingkungan peradilan pada tahun 1981 sebagai CPNS Calon Hakim di Pengadilan Negeri Kutacane, Nangroe Aceh Darussaalam. Baru di tahun 1984, Syarifuddin diangkat sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Kutacane.

Sebagai Hakim dirinya sering dipindah tugaskan. Sepanjang tahun 1990-1995 Syarifuddin menjalani profesinya sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Masih di wilayah Sumatera, Syarifuddin lantas dimutasi ke PN Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Ketua Terpilih
Hakim Agung Syarifuddin, Ketua MA terpilih (https://www.mahkamahagung.go.id/)

Hakim Agung kelahiran Baturaja 17 Oktober 1954 silam itu pun pernah bertugas di kampung halamannya pada tahun 1999.Syarifuddin kembali mendapat promosi dan mutasi pada tahun 2003 dengan ditempatkan di PN Jakarta Selatan.

Karirnya merangkak naik saat ditunjuk menjabat Wakil Ketua PN Bandung (2005). Berselang satu tahun MA mempercayakannya menjadi Ketua PN Bandung hingga tahun 2011.

Dalam perjalanan karirnya Syarifuddin juga pernah diangkat sebagai hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi Palembang. Namun jabatan ini tidak berlaku lama. Karirnya menanjak saat ditunjuk sebagai Kepala Badan Pengawas MA. Selanjutnya pada tahun 2013 Syarifuddin terpilih sebagai Hakim Agung.

Kemudian di tahun 2016, dirinya dipilih menjadi Wakil Ketua MA Bidang Yudisial. Sebelumnya oleh Ketua MA ia dipercaya sebagai ketua Kamar Pengawasan MA.

Tak hanya karirnya yang moncer, Syarifuddin juga sempat menuai kontroversi saat memutus beberapa perkara karena ‘menyunat’ masa hukuman. Sebut saja salah satunya, perkara kurir narkoba Tuti Herawati. Tuti yang merupakan kurir narkoba jaringan internasional yang tiga kali membawa sabu ke Indonesia itu sempat ditangkap oleh BNN. Sempat divonis untuk menjalani hukuman seumur hidup, namun dalam peninjauan kembali (PK) MA mengurangi hukumannya menjadi hanya 20 tahun penjara. Duduk sebagai salah satu hakim PK saat itu (2016) Hakim Agung Syarifuddin.

‘Korting’ hukuman juga pernah diberikan kepada terpidana korupsi Angelina Sondakh. Melalui putusan PK bersama rekan sejawatnya Andi Samsan Nganro dan Syamsul Rakan Chaniago, Syarifuddin memutuskan untuk mengurangi masa hukuman Angelina Sondakh dari 12 tahun menjadi 10 tahun kurungan penjara. Padahal sebelumnya anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat ditingkat kasasi oleh Artidjo Alkostar, MS Lumme dan M Askin, dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

Masih dalam kasus korupsi lagi-lagi bersama Hakim Agung Andi Samsan Nganro dan Hakim Agung Syamsul Rakan Chaniago, Syarifuddin memvonis bebas terpidana korupsi Lukman Hakim Adnan. Seperti diketahui Lukman merupakan terpidana kasus korupsi pembangunan saluran irigasi senilai Rp 2 miliar di Dinas PU Pengairan Nganjuk, Jawa Timur.

Trio Hakim agung Syarifuddin-Andi Samsan Nganro-Syamsul Rakan Chaniago juga tercatat sempat mengurangi hukuman koruptor lainnya, yakni Bos Sentul City, Cahyadi Kumala alias Swie Teng. Ditingkat PK Cahyadi divonis penjara selama 2,5 tahun. Hukuman ini menjadi lebih rendah dari sebelumnya yaitu 5 tahun penjara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *