Haul Ke-7 Taufik Kiemas: Politik Itu Berteman!

  • Whatsapp
Haul Ke-7 Taufik Kiemas: Politik Itu Berteman!
WhatsApp Image 2020 06 07 at 18.56.55 2

Taufik Kiemas sering mengatakan “bahwa orang yang tidak mampu mencandai dirinya sendiri tidak akan bisa maju”.

Baginya, canda adalah bagian dari kesehatan mental yang membuat seseorang mampu mengontrol dirinya sendiri, karena orang yang bertampramen tinggi yang disertai arogansi, biasanya tidak mampu bergaul dengan lingkungan.

Demikian disampaikan oleh Taufik pada saat pelantikan Majelis Nasional Korp Alumni HMI tahun 2010. Dalam pidatonya, Taufik Kiemas juga dengan nada bercanda, “menantang” kader HMI untuk bisa jadi Presiden.

Bacaan Lainnya

Kader GMNI sudah pernah jadi Presiden dan wakil Presiden, kader HMI baru bisa menjadi wakil Presiden, tantangan bernada guyonan ini, diamini oleh seluruh kader dan alumni HMI yang hadir saat itu.

Pada kesempatan yang sama, Taufik Kiemas juga diangkat sebagai anggota kehormatan Korp Alumni HMI (KAHMI). Mungkin inilah jawaban atas airmata ayahnya ketika Taufik Kiemas memutuskan bergabung dengan GMNI.

Langkah dia meleburkan dikotomi Islam dan Nasionalis semakin menemukan bentuknya ketika pemilu 1999 PDI Perjuangan sebagai partai pemenang, namun pada pemilu 2004, suara PDI Perjuangan jeblok.

Penurunan suara PDI Perjuangan secara drastis ini terjadi, selain karena ulah kadernya yang banyak terlibat pelbagai kasus hukum, juga berkembang rumor bahwa PDI Perjuangan partai yang tidak mengakomodir kepentingan ummat Islam.

Sebagai sosok yang suka mendengarkan pendapat orang lain, Taufik juga sosok yang suka melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Kritikan PDI Perjuangan sebagai partai sekuler dan “anti Islam” dijawab oleh Taufik Kiemas dengan mendatangi masjid, mushola, surau, pesantren dan organisasi islam serta tokoh-tokoh Islam.

Taufik Kiemas sering terlihat hadir di masjid besar maupun masjid di kampung-kampung maupun dalam gang sempit dan kumuh.

Perjalanan dan hasil mendengarkan keinginan dan aspirasi ummat ini, ia berdiskusi dengan tokoh-tokoh organisasi Islam seperti Muhammadiyah (Prof. Din Syamsuddin dan Buya Syafii Maarif) Nahdlatul Ulama (KH. Hasyim Muzadi dan KH. Said aqil Siradj), Akbar Tanjung sebagai tokoh KAHMI serta tokoh-tokoh lainnya.

Atas saran dan masukan para tokoh Islam, Taufik Kiemas berinisiatif mendirikan Baitul Muslimin Indonesia sebagai organisasi Islam yang se-asas dan se-aspirasi dengan PDI Perjuangan.

Pendirian Baitul Muslimin Indonesia ini sebagai upaya untuk melengkapi pokok-pokok pikiran Bung Karno yang “diadopsi” oleh PDI Perjuangan sebagai “bintang penunjuk” dalam perjuangan politik dan gagasan. Ide keberagaman dan menghargai perbedaan sebagai anugerah dari Allah SWT, juga dituangkan dalam Baitul Muslimin Indonesia.

Taufik Kiemas selalu mengingatkan Baitul Muslimin Indonesia tentang api revolusi Islam yang menjadi kekuatan inti revolusi Indonesia yang digelorakan Bung Karno.

Pancasila digali Bung Karno dari shaf Hindu, dan disempurnakan oleh api revolusi Islam. Kita mengambil apinya, bukan debu atau arang revolusi Islam.

Oleh karenanya, Indonesia harus bisa menjadi “rumah besar” bagi semua golongan, kelompok, bukan saja bagi ummat Islam tetapi juga menjadi tempat berteduh yang nyaman bagi agama lain.

Demikianlah Taufik mengaplikasikan Islam rahmatan lil alamin yang hidup dan bergerak melalui Baitul Muslimin Indonesia.

Untuk itu, Taufik Kiemas selalu berpesan agar Baitul Muslimin Indonesia harus banyak membangun pergaulan, jejaring, dengan siapa saja. Karena bagi Taufik Kiemas politik itu adalah berteman.

Penulis: Mahmuddin Muslim
Pengurus Majelis Nasional Korp Alumni HMI (Kahmi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *