Din Syamsudin Sebut Pancasila Mengandung Nilai Islam

  • Whatsapp
Din Syamsudin Sebut Pancasila Mengandung Nilai Islam

Garisatu.comTokoh Muhammadiyah Din Syamsudin mengungkap bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai keislaman. Pernyataan ini dikemukakan Din di hadapan peserta Konperensi Pembaruan Pemikiran Islam Al-Azhar, Kairo, yang diselenggarakan pada 27 – 29 Januari 2020.

Mencuplik pidato kunci dari Grand Syaikh Al-Azhar yang disampaikan ketika Pembukaan Pertemuan Puncak Ulama dan Cendekiawan Muslim Sedunia ttg Wasathiyat Islam, di Bogor, 2018, Din mengatakan bahwa Pancasila adalah Islami.

Bacaan Lainnya

Dalam pidatonya Din yang juga merupakan Ketua Dewan Pertimbangan MUI mengutarakan kalau dibedah, sila demi sila dari Pancasila merupakan nilai-nilai Islam. Begitu pula Konstitusi Negara Indonesia, UUD 1945, merupakan kristalisasi dari nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu sistem Pemerintahan yg bersifat presidensiil dengan lembaga-lembaga negara seperti MPR dan DPR dapat dikatakan sebagai manifestasi pemikiran politik Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam konteks Indonesia.

Selain itu, sistem ekonomi yg diterapkan, yg bukan kapitalisme dan bukan sosialisme, tapi adalah sistem ekonomi kekeluargaan. Pemilihan sistem ekonomi semacam itu  merupakan cerminan ‘Jalan Tengah” dan mengedepankan prinsip kegotongroyongan (ta’awun) yg diajarkan dalam Islam.

Begitu pula sumber daya alam harus dikuasai negara (tidak diserahkan kepada mekanisme pasar bebas) merupakan pengamalan dari hadits bahwa air, api, dan rumput tidak diserahkan kepada orang banyak.

Din juga memaparkan jika masih banyak hal lain yg bisa diangkat sebagai refleksi ajaran Islam. Termasuk, dalam hal ini, Motto Bangsa “Bhineka Tunggal Ika”, satu walau berbeda, beragama tapi satu adanya, merupakan ajaran Islam tentang perlunya persaudaraan kebangsaan dan persaudaraan kemanusiaan.

Baca juga: Gus Sholah Meninggal Dunia 2020: Kapolda Jatim Beri Penghormatan Terakhir

Bahkan kemerdekaan Indonesia sangat ditentukan dan diwarnai oleh pemikiran dan gerakan organisasi-organisasi organisasi islam yang bersifat organisasi massa. Bahkan sebagian dari organisasi tersebut berumur lebih tua dari Negara Indonesia.

Din menyebut beberapa tokoh pergerakan Indonesia diantaranya juga berasal dari organisasi-organisasi ini. Misalnya, Sang Proklamator Sukarno dan Jenderal Sudirman, Pendiri TNI, berasal dari Muhammadiyah.

Demikian pula dengan salah seorang perumus Konstitusi Indonesia KH. A. Wahid Hasyim dari Nahdhatul Ulama. Hingga Guru dari banyak Tokoh Indonesia Cokroaminoto dari Syarikat Islam.

Itulah yang mempengaruhi arsitektur Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila.  Sampai disini jelas bahwa Negara Indonesia sangat memiliki celupan (shibghah) Islamiyah dan bersifat wasathiyah.

Din Presentasi
Din Syamsyudin (dua dari kanan)

Hal itu dipaparkan Din kepada sekitar 300 ulama dari Departemen Agawa Wakaf (Awqaf), Dar Al-Efta, lembaga tertingi yang bertugas memutuskan (fatwa)/menjawab pertanyaan agama dan berafiliasi dengan Al-Azhar Mesir. Serta dihadiri pula dewan Muslim dari 41 negara muslim, termasuk perwakilan dari Indonesia.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *