Dampak COVID-19, Dr. Kemal: Muncul Banyak Hoaks, Provokasi, Dsb!

  • Whatsapp
Dampak COVID-19, Dr. Kemal: Muncul Banyak Hoaks, Provokasi, Dsb!

Garisatu.com – Hoaks, hasutan, provokasi, ajakan pelakuan anarki, semua adalah masalah yang seharusnya tidak terjadi di tengah pandemi COVID-19 ini. Namun hal-hal tersebut tersebar dimana-mana.

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Mohammad Kemal Dermawan mengingatkan, masyarakat perlu ingat bahwa memilih informasi tepat dari sumber terpercaya adalah hal yang penting. Jangan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.

Bacaan Lainnya

“Masyarakat harus bisa memilih berita yang berasal dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti berita himbauan dan sosialisasi kebijakan dari Pemerintah.” ujar Dr. Kemal di Jakarta, Kamis (16/4/2020).

“Di lain pihak, Pemerintah bersama pihak terkait lainnya juga harus aktif melakukan himbauan kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan suatu informasi yang belum jelas kebenarannya dan senantiasa mengkonsumsi berita-berita atau informasi tandingannya,” lanjut dia.

Screen Shot 2020 05 21 at 23.23.19

Dr. Kemal menambahkan, secara umum, status sosial masyarakat mempengaruhi kemampuan dalam menyeleksi konten berita dan dalam memilih sumber berita. Apalagi jika berhubungan dengan nasib kehidupan mereka.

“Contohnya, masyarakat dalam tingkat status sosial dan ekonomi yang rendah, ketika menerima informasi tentang kondisi ‘lock down’ dan lalu dikaitkan dengan ‘penghasilan’ mereka sehari-hari yang akan terdampak. Hal ini bisa membuat masyarakat menengah kebawah lebih mudah terprovokasi dengan berita-berita yang terkait akibat dampak `lock down` tersebut karena itu menyangkut kehidupan mereka,” terang dia.

Lanjutnya, menurut Dr. Kemal, masyarakat dengan status sosial yang lebih tinggi memiliki kemampuan bertahan hidup secara ekonomi, maka tentunya mereka lebih memilih informasi yang mendasarkan dari segi fakta, bebas dari opini semata, hoaks dan provokasi.

“Sehingga masyarakat yang status sosial ekonomi yang lebih tinggi ini tidak mudah terprovokasi. Karena mereka tentunya akan menyeleksi berita yang mengajak kedamaian dan mana berisi yang ajakan melakukan anarkis. Karena kalau mereka memilih berita yang mengajak melakukan anarki tentu malah akan merugikan mereka sendiri nantinya,” kata Dr. Kemal.

Tipuan, Berita, Palsu, Konsep, Informasi

Selain provokasi segi ekonomi, juga ada dari segi agama, seperti dilarangnya ibadah di tempat ibadah (demi  menekan penyebaran COVID-19) yang dapat memicu kericuhan.

“Hal ini bagi warga masyarakat yang tidak dapat menyikapinya secara bijak akan menjadi sumber bagi ajakan melakukan anarkis sebagai bentuk perlawanan terhadap larangan beribadah. Padahal maksud sebenarnya bukan itu, melainkan pelarangan orang berkumpul di tempat ibadah untuk memutus rantai penyebaran virus, tapi ibadah di rumah kan tetap bisa dan tidak ada larangan,” pungkasnya.

Dr. Kemal: Tokoh Masyarakat Diperlukan

Tokoh masyarakat yang terpercaya dan dikenal bijak dapat diajak meneruskan pesan ini. Menyeleksi berita yang netral dan berisi fakta, dan untuk tidak terlalu cepat mempercaya dan meneruskan informasi tentang COVID-19 yang belum diakui benar.

“Karena berita atau informasi itu yang tidak benar akan cepat meluas dan berpengaruh pada orang banyak. Maka tokoh masyarakat juga harus dilibatkan untuk senantiasa muncul di tengah-tengah masyarakat melalui medsos dan media lainnya untuk selalu mengingatkan warganya untuk tidak mudah percaya dengan berita atau informasi yang tidak jelas sumbernya,” ungkap Dr. Kemal.

Website komunitas atau WhatsApp Group (WAG) dapat digunakan para tokoh masyarakat untuk dijadikan sarana komunikasi dengan para warga.

“Web komunitas WAG dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi bagi tokoh masyarakat dan tokoh bangsa dengan warga masyarakat untuk mengkaji kebenaran berita atau informasi yang diperoleh serta mempersiapkan tindakan antisipasinya,” terang Dr. Kemal.

Screen Shot 2020 05 21 at 23.23.33

Selain itu, menurutnya, pemerintah melalui aparat penegak hukumnya dapat melakukan `patroli cyber` untuk mengamankan konten-konten berita yang menghasut seperti berita hoaks dan provokasi.

“Sehingga dapat mengurangi kemungkinan terdampaknya masyarakat akan berita-berita tersebut. Dan tidak lupa aparat bisa melakukan penegakan hukum kepada pihak-pihak yang menyebarkan hasutan dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa Pemerintah bersikap dan bertindak sungguh-sungguh terhadap berita atau informasi seperti itu dan menindak secara tegas pelakuknya,” tegas Dr. Kemal.

Maka itu, anggota Senat Akademik Universitas Indonesia ini mengajak masyarakat dan para tokoh untuk tidak gampang terpengaruhi oleh isu-isu yang muncul di tengah pandemi COVID-19 dan tetap mematuhi arahan pemerintah, seperti PSBB.

“Perlu diingatkan pada aktor yang mensosialisasikan PSBB ini bahwa kebijakan tersebut bukan untuk kepentingan individu tapi untuk kepentingan bersama. Dengan selalu mengkaitkan kepentingan bersama maka rasa untuk komitmen terhadap kebijakan Pemerintah diharapkan akan lebih efektif,” katanya.

Selanjutnya, platform media sosial seperti Twitter, Facebook, Pinteres, Tencent, dan Tiktok adalah jalur yang bagus bagi pemerintah untuk bekerjasama dalam mengisi konten yang netral serta benar, dan pesan-pesan seperti ini, serta melaporkan adanya hoaks, provokasi, dsb yang dapat memicu kerusuhan.

“Jika ada konten berita atau informasi yang  menghasut atau mengajak anarkis atau berita bohong dianjurkan untuk pengguna agar melaporkan konten, kontak, grup yang bermasalah kepada pihak yang berwajib, atau paling tidak ke tohoh masyarakat melalui WAG yang sudah dibentuk,” tutup Dr. Kemal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *