BTN Prediksi Restrukturisasi Kredit Capai Rp68 Triliun Di Akhir Tahun

  • Whatsapp
BTN Prediksi Restrukturisasi Kredit Capai Rp68 Triliun Di Akhir Tahun

Garisatu.com – Di akhir tahun 2020, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) prediksi restrukturisasi kredit dapat mencapai sebesar Rp 68,03 triliun dari 399.173 debitur.

Mayoritas restrukturisasi perseroan berasal dari segmen kredit konsumer.

Bacaan Lainnya

Sudah Ada 22 ribu Debitur Restrukturisasi Kredit di BTN

Direktur Finance, Planning, and Treasury BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan bahwa saat ini perseroan telah merestrukturisasi kredit sebanyak 220 ribu debitur. 

“Tren restrukturisasi kredit perseroan mulai mengalami penurunan pada Juni sampai akhir tahun ini, diharapkan restrukturisasi semakin menurun seiring aktivitas ekonomi yang mulai berjalan,” kata dia dalam acara Pelatihan UMKM Akurat dengan tema ‘Strategi Bisnis UMKM Tetap Berjaya di Era New Normal’ secara virtual, Rabu (22/7).

Nixon mengatakan, estimasi restrukturisasi kredit sebesar Rp 68,03 triliun sejak Juni 2020 dengan rincian dalam tiga bulan antara lain Juni hingga Agustus Rp 37,55 triliun dari 210.262 debitur.

Secara detil, segmen konsumer syariah sebesar Rp 1,81 triliun dari 16.345 debitur, dan segmen konsumer konvesional sebesar 193.265 debitur dengan baki debet sebesar Rp 24,59 triliun.

Lalu di segmen UKM ada 305 debitur dengan nilai kredit Rp 135 miliar, segmen korporasi hanya dua debitur dengan baki debet Rp 4 triliun.

Sedangkan segmen komersial konvensional sebanyak 214 debitur dengan estimasi plafon Rp 6,50 triliun, segmen komersial syariah sebanyak 132 debitur dengan baki debet Rp 298 miliar.

Kemudian, BTN mencatat potensi restrukturisasi sebanyak 188.911 debitur dengan baki debet sebesar Rp 30,48 triliun dalam empat bulan berikutnya sejak September hingga akhir Desember 2020.

Mayoritas dari segmen konsumer konvensional sebesar Rp 22,54 triliun dari 177.159 debitur.

Lanjut Nixon, hingga saat ini debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih paling banyak dari 220 ribu debitur yang telah direstrukturisasi perseroan.

Penundaan pembayaran dengan tenor dari enam bulan hingga 12 bulan merupakan pola restrukturisasi yang banyak diminta.

“Kurang lebih ada 200 ribu dari nasabah KPR, kemudian 5.000 nasabah dari pengusaha UMKM dan juga korporasi,” kata dia.

Nixon menambahkan, BTN masih menyalurkan kredit di tengah pandemi Covid-19 karena masih terdapat permintaan kredit, khususnya KPR subsidi.

Hal ini karena rumah merupakan kebutuhan primer masyarakat, apalagi di masa pandemi COVID-19 saat ini dimana semuanya bekerja dari rumah.

Maka itu kebutuhan akan memiliki rumah masih tinggi, khususnya untuk rumah pertama. 

“Ada pengajuan kredit, dari Maret-April yang paling terdampak pandemi saja ada pengajuan KPR. Sampai Juni kami bukukan KPR subsidi Rp 800 miliar- Rp 900 miliar, nonsubsidi Rp 400 miliar, jadi masih ada pengajuan Rp 1,3 triliun sampai Rp 1,5 triliun. Meskipun angkanya sangat jauh dari kondisi normal, tapi orang tetap beli rumah karena semuanya stay at homework from home,” terang dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *