BELAJAR ONLINE BERUJUNG KEMATIAN

  • Whatsapp
BELAJAR ONLINE BERUJUNG KEMATIAN
BELAJAR ONLINE BERUJUNG KEMATIAN

Garisatu.com – Sepasang suami istri berinisial LH (perempuan) dan IS (laki laki) ditangkap polisi pada hari Minggu dini hari, 13 September 2020 di rumah kontrakan barunya di Jakarta. Suami istri ini merupakan pelaku penganiayaan putri kandungnya saat sedang belajar online hingga tewas.

BELAJAR ONLINE BERUJUNG KEMATIAN, MIRIS!

652760 720

Setelah ditelusuri aparat, ternyata korban berinisial KS yang masih duduk di kelas 1 SD itu meninggal karena dianiaya ibunya sendiri, LH (26). Pelaku mengaku menganiaya sang putri karena kesal putrinya sulit memahami pelajaran saat belajar daring (dalam jaringan) atau belajar online.

Bacaan Lainnya

Awalnya hanya mencubit, kemudian memukul tubuhnya menggunakan tangan, gagang sapu hingga mendorong yang membuat kepala anaknya terbentur lantai.

ilustrasi belajar online istock  4 ratio

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 26 Agustus pagi, sekitar pukul 09.00 wib. Pada saat sang anak yang diketahui masih kelas 1 SD ini sedang melakukan sesi belajar online, dan dipukul lebih dari lima kali. Ungkap Kasatreskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma, kepada wartawan di kantornya, Selasa (15/9).

Pada saat sang ayah (IS) kembali kekontrakannyadi daerah Kreo, Tangerang, Banten, mengaku kaget putrinya dalam kondisi lemas usai sesi belajar online. Lalu sepasang suami istri ini berniat untuk mengajak kedua anaknya untuk berjalan jalan menggunakan sepeda motor. Tapi sayangnya, putrinya menghembuskan nafas terakhir di tengah perjalanan.

LH dan IS panik lalu membawa jenazah putri kandung nya itu ke Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten, untuk dimakamkan. Mereka meminjam cangkul dari warga sekitar.

“Kemudian berupaya menghilangkan jejak dengan menguburkan korban. Di mana, di TPU di Cijaku itu ada neneknya, alamatnya dari paman si ibu nya ini. Setelah menguburkan jenazah di wilayah Banten, mereka pulang dan pindah kontrakan,” ujar David Adhi.

2 Remains of person

Kemudian, warga yang sedang berziarah di makam TPU Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak, Banten pada 12 September 2020 melihat adanya makam baru yang tidak memiliki batu nisan. Padahal, tidak ada info ada warga sekitar yang meninggal. Warga pun melaporkan penemuan makam tak bernisan itu ke polisi.

“Menindaklanjuti hal tersebut aparat desa dan warga melakukan pembongkaran makam yang disaksikan oleh Polres Lebak dan dari hasil tersebut ditemukanlah ada mayat anak perempuan yang berusia 9 tahun masih menggunakan pakaian lengkap, dan setelah itu dilakukan identifikasi atas mayat tersebut oleh reskrim Polres Lebak,” ungkap Edy, Kabidhumas Polda Banten, Rabu (16/9).

Edy melanjutkan, di waktu yang berdekatan, Polres Lebak mendapatkan informasi dari Polsek Metro Setia Budi, Jakarta Selatan bahwa ada laporan orang tua yang mengaku kehilangan anaknya. Anak yang hilang memiliki ciri-ciri sama seperti mayat yang ditemukan.

Dari hasil pemeriksaan polisi, laporan tersebut ternyata fiktif. “Dari hasil informasi tersebut, polisi mendatangi alamat dari laporan yang diduga palsu tersebut. Satreskrim Polres Lebak lalu mengamankan orang tua pelaku LH yang merupakan ibu kandung korban, dan IS yang merupakan ayah korban.

LH dan IS ditangkap di rumah kontrakan mereka pada Minggu (13/9) dini hari di Jalan Assofa Raya, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Keduanya sengaja membuat laporan fiktif untuk menghilangkan jejak.

“Atas perbuatannya mendapatkan Ancaman 15 tahun penjara dan ditambah sepertiga atau maksimal seumur hidup dikarenakan pelaku orang tua kandung korban,” tegas Edy.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *