Anies: ‘Emergency Brake’ Jika Kasus COVID-19 Melesat!

  • Whatsapp
Anies: 'Emergency Brake' Jika Kasus COVID-19 Melesat

Garisatu.com – Sejak PSBB DKI Jakarta berakhir pada 4 Juni lalu, kini Ibu Kota memasuki masa transisi. Masa transisi menandakan kondisi masih belum sepenuhnya kembali seperti semula.

Di masa transisi ini, dimulai dari 5 Juni hingga akhir bulan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan bahwa pihaknya akan menjalani serta mengawasi kondisi pandemi secara sangat berhati-hati.

Bacaan Lainnya

Lanjutnya, barangkali jumlah kasus positif corona serta angka kematiannya melonjak di Ibu Kota, tanpa sungkan kebijakan emergency brake akan langsung diterapkan.

“Kami tidak ingin melihat adanya kasus, pasien, atau kematian baru. Jika angka-angka itu tiba-tiba melonjak ke level yang mengkhawatirkan kami, maka kami akan menarik remnya,” jelas Anies dalam wawancara dengan media Qatar, Al Jazeera, Selasa (9/6).

“Periode transisi tidak bisa disikapi begitu saja, melainkan harus bekerja keras. Kami memonitor pelaksanaannya setiap hari, dan kami ingin masa transisi ini berjalan dengan lancar. Emergency brake adalah upaya terakhir kami,” tambah dia.

Sejak awal masa transisi mulai, Emergency brake sudah diberitahu. Jika kebijakan ini terpaksa diterapkan, maka peraturan PSBB akan sepenuhnya dijalani kembali. Artinya sektor yang 50 persen sudah dibuka terpaksa ditutup kembali.

“Kami harus memastikan semuanya siap, bahkan untuk skenario terburuk. Jika dokter, paramedis, dan rumah sakit semuanya siap, maka saya merasa nyaman untuk menjalankan periode transisi ini,” terang Anies.

Setelah 3 bulan tertekan oleh pandemi COVID-19, pemerintah pusat mulai menerapkan kebijakan new normal.

Anies: Masa Transisi Bukan Sepenuhnya Kembali Normal!

Kendati begitu, Anies mengingatkan bahwa new normal tidak berarti segalanya kembali normal. Masih ada peraturan dan protokol kesehatan yang harus ditaati demi menghindari penyebaran virus corona.

“Kami ingin kembali ke kondisi ketika warga Jakarta merasa aman dan produktif. Aktivitas sosial, budaya, dan pendidikan dapat kembali berjalan, tapi ada perilaku baru yang harus dipelajari,” kata dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *