2 Penyebar Hoax ‘Rush Money’ Ditangkap, Bareskrim Masih Usut Aktor Intelektualnya!

  • Whatsapp
2 Penyebar Hoax 'Rush Money' Ditangkap, Bareskrim Masih Usut Aktor Intelektualnya

Garisatu.com – Pelaku penyebar informasi palsu (hoax) tentang ‘Rush Money’ di media sosial telah teridentifikasi dan tertangkap.

Saat ini 2 tersangka dengan inisial AY dan IS telah ditetapkan dan ditahan.

Bareskrim Polri diminta untuk mengungkap aktor intelektual dalam kasus hoax rush money ini.

Menurut Suparji Ahmad, seorang pakar hukum pidana dari Universitas Al-Azhar Indonesia, perkara kasus penyebaran hoax besar-besaran mengenai penarikan uang simpanan dari sejumlah bank tidak dapat dianggap hanya perkara sepele.

Alasannya karena dampaknya besar, hingga menyentuh perbankan dan perekonomian.

Maka penyidik patut membuat perkara ini dengan jelas agar motif dan orang-orang yang terlibat dalam penyebaran hoax rush money dapat terungkap.

“Karenanya harus diusut aktor intelektualnya atau pihak yang menyuruh pelaku melakukan perbuatan hoax itu,” kata Suparji Ahmad, Senin (6/7).

Tambah dia, penyidik tidak boleh langsung percaya dengan alasan yang dikatakan kedua tersangka tersebut terkait penyebaran informasi hoax rush money tersebut.

“Tidak boleh berhenti di situ, pengakuan tersangka, karena secara hukum adanya pengakuan tidak menghentikan proses pembuktian berikutnya,” jelas Suparji Ahmad.

Mengenai dua pelaku yang terciduk, AY ditangkap di Jakarta dan IS di Malang. Sejumlah bank yang menjadi sasaran hoax adalah Bank Mayapada, Bank BTN dan Bank Bukopin.

AY menulis di akun media sosial Twitternya (@Achmadyani.ay70), “Yg punya simpenan di Bukopin ,BTN, Mayapada buruan ambil (klo bisa semuanya)..!!!! Daripada amsyong….”.

Sedangkan IS diduga telah menyebarkan hoax berupa video yang berisi pernyataan bahwa tabungan nasabah Bank Bukopin tidak dapat cair karena kekurangan uang cash.

Dengan itu AY telah ditahan dengan disangka melanggar Pasal 14 Ayat (1) dan/atau Ayat (2) dan/atau Pasal 15 UU 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Sementara IS dijerat Pasal 45 Ayat (1) Jo Pasal 27 Ayat (1) UU 11/2008 sebagai Pasal 14 Ayat (1) dan/atau (2) dan/atau Pasal 15 UU 19/2016 tentang Perubahan Atas UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 14 Ayat (1) dan/atau (2) dan/atau Pasal 15 UU 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *